Sentul, BOGOR24JAM.COM - Kondisi lingkungan hidup di Bogor memprihatinkan. Sungai dan hutan tercemar sampah, memicu kekhawatiran mendalam dari para pegiat lingkungan. Dwi Retnastuti, seorang praktisi lingkungan hidup sekaligus Dewan Nasional WALHI, mengungkapkan keprihatinannya atas situasi ini. Masalah pengelolaan sampah yang tak kunjung usai, justru menciptakan persoalan baru di tengah masyarakat, seperti yang terjadi di Cikarang Barat dan Sentul City, baru-baru ini memicu gelombang protes warga.

Seharusnya, kata Dwi, PT Xaviera Global Synergy (XGS) konsisten mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2020, sebagai dasar hukum pelaksanaan zero waste. Prinsipnya jelas: mengurangi sampah dari sumbernya. "Sumbernya dari mana, dari kita sendiri dan sebisanya untuk tidak menghasilkan sampah," ungkapnya.

Lebih lanjut, Dwi menekankan pentingnya peran aktif XGS dalam mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. "Yakni, melibatkan masyarakat dalam pengelolaan dalam artian ada edukasi yang masif terkait pengelolaan sampah serta memilah sampah dari sumbernya. Sehingga, masyarakat mau terlibat dalam pengelolaan sampah," imbuhnya.

Gunungan sampah yang mencemari lingkungan, menurutnya, harus ditelusuri penyebabnya. Apakah karena dibiarkan begitu saja, atau ada pengelolaan namun tidak ada pengangkutan sampah residunya. Sanksi tegas harus ditegakkan sesuai peraturan daerah yang berlaku.

"Bisa saja di usut melalui hukum yang berlaku apabila memang melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah daerahnya," jelasnya.

WALHI juga menyoroti dampak pencemaran lingkungan hidup akibat sampah dan limbah terhadap kesehatan manusia, habitat, dan keseimbangan alam. Bahaya mikroplastik yang terurai dalam tubuh manusia dan sungai menjadi ancaman serius.

Dwi juga mengingatkan bahaya pembakaran sampah yang menghasilkan dioksin, zat pemicu kanker. Sampah yang dikubur pun tak kalah berbahaya, karena dapat mencemari air tanah. "Kalau sampah dibuang ke Sungai akan menyebabkan pencemaran terhadap air sungai yang menyebabkan biota sungai akan mati dan air sungai sebagai sumber kehidupan manusia akan tercemar," jelasnya.

Protes Warga Memuncak

Sebelumnya, warga Sentul City melancarkan protes keras kepada PT Xaviera Global Synergy (XGS). Aroma tak sedap yang menyengat, risiko gangguan pernafasan (ISPA), ancaman pencemaran lingkungan, hingga pertanggungjawaban sosial perusahaan (CSR) menjadi tuntutan utama.