PUNCAK | BOGOR24JAM.COM – Dalam beberapa waktu terakhir, wilayah Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur) menghadapi berbagai persoalan lingkungan, mulai dari meningkatnya debit air, meluapnya saluran air, erosi, hingga kerusakan infrastruktur irigasi.

Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar kejadian musiman, melainkan pola yang terus berulang dari tahun ke tahun di kawasan hulu yang memiliki peran penting secara ekologis maupun ekonomi.

Ketua Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia Regional Gunung Gede Pangrango Halimun Salak (FK3I Regional Gedepahala), Ligar, S.R., mengatakan kawasan Bopuncur saat ini menghadapi tekanan lingkungan yang semakin kompleks. Mulai dari perubahan tata guna lahan, aktivitas ekonomi, hingga tantangan dalam pengelolaan lingkungan.

Menurutnya, dari sejumlah diskusi yang telah dilakukan sebelumnya, muncul kesadaran perlunya ruang bersama yang lebih luas guna menyatukan pandangan lintas sektor agar persoalan lingkungan dapat dipahami secara menyeluruh.

“Tujuan kegiatan diskusi ini untuk mengidentifikasi permasalahan utama lingkungan, membangun kesadaran kolektif terhadap kondisi yang sedang terjadi, serta menggali gagasan solusi dan langkah bersama yang realistis dan berkelanjutan,” ujar Ligar, Jumat (29/5/2026) di Cipanas, Jawa Barat.

Diskusi tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari komunitas pegiat lingkungan, perwakilan pemerintah, pelaku usaha lokal, akademisi, peneliti, hingga unsur media.

“Kita menyatukan perspektif lintas sektor yang meliputi komunitas, pemerintah, pengusaha, akademisi, dan media,” jelasnya.

Sementara itu, Pegiat Daerah Aliran Sungai (DAS) Jawa Barat, Heri Trijoko, menyampaikan bahwa isu utama yang dibahas dalam forum tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan di kawasan Bopuncur.

Beberapa persoalan yang menjadi perhatian antara lain banjir, erosi, kapasitas infrastruktur irigasi dan drainase terhadap peningkatan debit air, serta perubahan tata guna lahan dan dampaknya terhadap lingkungan.