Jasinga, BOGOR24JAM.COM - Aktivitas pertanian di Kampung Tarisi RT 03 RW 01, Desa Bagoang, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, mengalami penurunan drastis akibat minimnya pasokan air pada saluran irigasi Sodong. Kondisi ini telah berlangsung cukup lama dan semakin memperparah kehidupan para petani setempat.

Bukan hanya produktivitas hasil panen yang merosot tajam, salah satu warga pemilik penggilingan padi di kampung tersebut pun terancam gulung tikar. Usaha yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya kini berada di ujung tanduk akibat kesulitan mendapatkan pasokan padi dari para petani.

Mak Emik, salah seorang warga yang terdampak langsung oleh kekeringan irigasi Sodong, tak kuasa menyembunyikan keluh kesahnya. Ia merasa bahwa permasalahan ini seolah luput dari perhatian pemerintah daerah, padahal dampaknya sangat besar bagi kehidupan masyarakat Kampung Tarisi.

“Dulu, sebelum irigasi ini kering, hasil panen padi kami bisa mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan bisa dijual ke luar kampung. Tapi sekarang, jangankan untuk dijual, untuk makan sehari-hari saja susah,” ujar Mak Emik dengan nada sedih.

Menurut penuturan warga setempat, masalah kekeringan irigasi Sodong ini mulai terasa dampaknya pasca banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada awal tahun 2020. Bencana alam itu diduga telah menyebabkan kerusakan parah pada struktur saluran irigasi, sehingga pasokan air dari sungai utama menjadi terhambat.

Saluran irigasi Sodong merupakan urat nadi bagi kehidupan pertanian di Kampung Tarisi. Sebagian besar lahan pertanian di wilayah ini sangat bergantung pada pasokan air dari irigasi tersebut. Tanpa air yang cukup, tanaman padi tidak dapat tumbuh dengan baik, sehingga hasil panen menjadi sangat minim.

Kondisi ini semakin diperparah oleh musim kemarau yang berkepanjangan. Curah hujan yang rendah membuat debit air sungai semakin menurun, sehingga pasokan air ke irigasi Sodong pun semakin berkurang.

Para petani di Kampung Tarisi telah berupaya berbagai cara untuk mengatasi masalah kekeringan ini, mulai dari membuat sumur-sumur kecil di sekitar lahan pertanian hingga mencoba mengalirkan air dari sumber-sumber air alternatif. Namun, upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan.

Kondisi ini membuat para petani semakin putus asa. Mereka khawatir jika masalah kekeringan ini tidak segera diatasi, maka mereka akan kehilangan mata pencaharian dan terpaksa beralih profesi.