BOGOR24JAM.COM – Perbandingan antara gaji guru dan tenaga program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ramai diperbincangkan di masyarakat. Narasi yang menyebut “sarjana pendidikan kalah dengan tukang masak” menjadi viral di media sosial dan memicu perdebatan luas.

Namun, di balik polemik tersebut, terdapat fakta yang lebih kompleks terkait ketimpangan kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia.

Guru Honorer Masih Bergaji Rendah

Di sejumlah daerah, guru honorer masih menerima gaji jauh di bawah standar kelayakan. Berdasarkan temuan di lapangan, banyak guru honorer hanya menerima honor antara Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan.

Sementara itu, data Kementerian Pendidikan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masih ada ratusan ribu guru non-ASN yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam skema PPPK.

“Masih banyak guru honorer yang gajinya sangat kecil, bahkan tidak cukup untuk kebutuhan dasar. Ini fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi,” ujar Rakhmat Hidayat pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta.

Tenaga MBG Dinilai Lebih Cepat Terserap

Di sisi lain, program MBG sebagai program prioritas nasional dinilai mampu menyerap tenaga kerja dengan lebih cepat. Tenaga dapur atau juru masak dalam program ini diperkirakan menerima upah berkisar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan, tergantung wilayah dan skema kerja.

Meski demikian, status tenaga MBG bersifat non-ASN dan berbasis proyek, berbeda dengan guru yang merupakan bagian dari sistem pendidikan formal.