Cibinong, BOGOR24JAM.COM - Sebuah bom waktu infrastruktur tengah berdetak di Bogor. Dugaan praktik curang penggunaan material 'besi banci' dalam proyek pemerintah daerah mencuat, mengusik rasa aman masyarakat. Temuan di lapangan mengungkap indikasi kuat bahwa kontraktor proyek menggunakan besi dengan diameter tidak sesuai standar, atau yang dikenal sebagai 'besi banci'. Ironisnya, material ini jelas-jelas tidak memenuhi standar kekuatan struktural yang diwajibkan dalam standar nasional.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan dengan jelas, perbedaan diameter besi yang mencolok, jauh di bawah spesifikasi yang tertera dalam dokumen proyek. Dalam dunia konstruksi, penggunaan 'besi banci' adalah trik kotor untuk menekan biaya, namun dampaknya sangat fatal: bangunan berisiko ambruk.
Seorang pekerja konstruksi yang memilih anonimitas, membenarkan kecurigaan tersebut.
"Datang sudah begitu dari supplier. Kami hanya pasang," ujarnya singkat, Senin (10/11/25).
Pengakuan ini menunjuk pada lemahnya pengawasan proyek. Konsultan pengawas dan dinas teknis terkait, terindikasi lalai dalam melakukan pengujian material sebelum besi-besi itu terpasang.
Sumber internal dinas terkait mengungkapkan, proyek pemerintah seharusnya wajib tunduk pada SNI 2052 tentang Baja Tulangan Beton. Standar ini mengatur segalanya, mulai dari toleransi diameter hingga proses produksi material. Pelanggaran terhadap SNI bukan hanya melanggar aturan pengadaan, tetapi juga membuka pintu bagi tuntutan pidana, jika terbukti merugikan negara dan membahayakan nyawa publik.
Penggunaan material di bawah standar, sayangnya, sudah menjadi rahasia umum dalam proyek-proyek besar. Jika dugaan ini terbukti benar, konsekuensinya mengerikan: deformasi struktural, retak dini, dan yang terburuk, kegagalan konstruksi total. Kita tentu tidak ingin jembatan atau gedung yang baru dibangun tiba-tiba roboh, bukan?
Investigasi mendalam akan segera dilakukan. Tim investigasi akan menelusuri semua dokumen teknis, menelaah nilai kontrak, dan mencari tahu perusahaan pemasok besi 'haram' tersebut. Publik menanti kebenaran dan pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang terlibat.
Hingga saat ini, media ini masih berupaya mendapatkan klarifikasi resmi dari pihak-pihak terkait. Kasus ini adalah tamparan keras bagi dunia konstruksi kita dan menjadi pengingat betapa pentingnya pengawasan yang ketat dan integritas dalam setiap proyek pembangunan. (Dv/San)