OPINI PENDIDIKAN - Oleh: Redaksi
BOGOR24JAM.COM – Setiap bulan Oktober, bangsa Indonesia memperingati Bulan Bahasa dan Sastra, mengenang tonggak sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 — ketika bahasa Indonesia ditegaskan sebagai bahasa persatuan. Namun kini, hampir seabad kemudian, bahasa Indonesia menghadapi tantangan baru yang tak kalah serius: krisis literasi dan degradasi penggunaan bahasa di kalangan pelajar.
Bahasa yang Mulai Terpinggirkan di Negeri Sendiri
Kita hidup di era digital, ketika pelajar lebih akrab dengan bahasa campuran — antara bahasa gaul, singkatan media sosial, dan istilah asing. Bahasa Indonesia baku perlahan tergeser oleh bahasa instan. Kalimat panjang dan penuh makna kini digantikan emoji, akronim, dan kata serapan tanpa konteks.
Fenomena ini bukan sekadar soal linguistik, tetapi cerminan menurunnya kemampuan literasi kritis generasi muda.
Survei Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan kemampuan membaca pelajar Indonesia masih di bawah rata-rata dunia. Ironisnya, pelajar sekarang lebih sering membaca — tapi bukan untuk memahami makna, melainkan sekadar menggulir layar (scrolling).
Bahasa Indonesia, yang dulu menjadi simbol perjuangan dan pemersatu bangsa, kini menghadapi ujian besar: mampukah ia tetap hidup dan bermartabat di tengah arus globalisasi digital?
Literasi Digital Tanpa Literasi Bahasa
Era digital memang membuka akses luas terhadap sumber belajar. Namun, di sisi lain, ia melahirkan generasi yang cepat menerima informasi tetapi lemah dalam menalar.
Banyak pelajar mampu mencari data di internet, tetapi kesulitan menulis dengan tata bahasa yang benar — bahkan memahami teks akademik sederhana pun sering tak mampu.
Inilah paradoks pendidikan modern: teknologi meningkat, tapi kemampuan berbahasa menurun.
Berita Populer
Bogor Raya
Install App
Bogor24jam.com
Untuk pengalaman membaca berita yang lebih cepat dan nyaman, Install Aplikasi kami di Android Anda