Opini Pendidikan. Oleh:adalahSusanto
BOGOR24JAM.COM - Perkembangan teknologi informasi dalam satu dekade terakhir telah mengubah wajah dunia pendidikan secara signifikan. Jika dahulu arus informasi pendidikan berjalan lambat dan terbatas, kini informasi bergerak sangat cepat, lintas platform, dan mudah diakses oleh siapa saja. Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang besar bagi kemajuan pendidikan. Namun di sisi lain, banjir informasi juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait validitas, kualitas, dan dampak psikologis bagi masyarakat pendidikan.
Dalam konteks Indonesia, termasuk di Kabupaten Bogor, transformasi informasi pendidikan terlihat dari meningkatnya penggunaan media digital oleh sekolah, guru, dan pemangku kebijakan. Pengumuman sekolah, publikasi prestasi, hingga inovasi pembelajaran kini banyak disebarkan melalui website, media sosial, dan media online. Fenomena ini menandakan bahwa satuan pendidikan mulai menyadari pentingnya keterbukaan informasi dan branding institusi.
Namun demikian, perkembangan ini belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi informasi yang memadai. Masih banyak informasi pendidikan yang beredar tanpa verifikasi yang kuat, bahkan tidak jarang narasi negatif lebih cepat viral dibandingkan praktik baik di lapangan. Di sinilah muncul kebutuhan mendesak akan ekosistem informasi pendidikan yang sehat, berimbang, dan edukatif.
Salah satu isu terkini yang menonjol adalah ketimpangan eksposur antara persoalan dan prestasi pendidikan. Media arus utama cenderung lebih cepat mengangkat kasus-kasus bermasalah mulai dari konflik sekolah, kekerasan, hingga polemik kebijakan sementara praktik baik seperti inovasi guru, keberhasilan siswa, atau terobosan sekolah sering luput dari perhatian publik. Akibatnya, persepsi masyarakat terhadap dunia pendidikan menjadi kurang proporsional.
Padahal, publikasi praktik baik memiliki efek berantai yang sangat positif. Ketika satu sekolah menampilkan inovasi pembelajaran, sekolah lain dapat meniru dan mengadaptasi. Ketika prestasi siswa diangkat, hal itu memotivasi peserta didik lain. Ketika kepemimpinan kepala sekolah yang inspiratif dipublikasikan, hal tersebut menjadi referensi kepemimpinan pendidikan yang efektif. Dengan kata lain, informasi positif dalam pendidikan bukan sekadar pencitraan, melainkan bagian dari ekosistem peningkatan mutu.
Di era digital, peran media pendidikan baik cetak maupun online menjadi semakin strategis. Media tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai kurator informasi, penggerak opini publik, sekaligus mitra strategis satuan pendidikan. Media yang mengusung jurnalisme positif memiliki posisi penting untuk menyeimbangkan narasi, tanpa mengabaikan fungsi kontrol sosial.
Selain itu, perkembangan kebijakan pendidikan nasional juga menuntut penyampaian informasi yang lebih akurat dan mudah dipahami. Program-program seperti digitalisasi sekolah, penguatan profil pelajar Pancasila, hingga berbagai skema bantuan pendidikan memerlukan diseminasi informasi yang efektif agar tidak menimbulkan multitafsir di lapangan. Banyak kebijakan sebenarnya baik secara konsep, tetapi implementasinya terganggu karena miskomunikasi informasi.
Tantangan berikutnya adalah kesenjangan kapasitas publikasi antar sekolah. Sekolah-sekolah di perkotaan relatif lebih siap memanfaatkan media digital dibandingkan sekolah di wilayah pinggiran. Hal ini berpotensi menciptakan ketimpangan visibilitas. Sekolah yang sebenarnya memiliki praktik baik bisa tetap “tidak terlihat” karena keterbatasan akses publikasi. Oleh karena itu, kehadiran media yang proaktif menjangkau satuan pendidikan menjadi sangat relevan.