Opini Pendidikan
OleH: Redaksi Bogor24jam.com
Di tengah berbagai program transformasi pendidikan dan target besar Indonesia Emas 2045, terdapat persoalan mendasar yang belum terselesaikan, yakni krisis guru dan minimnya regenerasi tenaga pendidik.
Masalah ini bukan hanya terjadi secara nasional, tetapi juga mulai terasa di Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bogor. Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor mencatat kebutuhan guru yang belum terpenuhi mencapai 8.421 orang pada tahun ajaran 2025/2026. Kekurangan tersebut terjadi pada jenjang SD dan SMP akibat pensiun, mutasi, meninggal dunia, serta belum optimalnya rekrutmen tenaga pendidik baru.
Krisis guru bukan sekadar persoalan jumlah tenaga pengajar. Persoalan ini juga menyangkut distribusi guru yang belum merata serta minimnya regenerasi profesi guru. Di banyak sekolah, kekurangan tenaga pendidik membuat guru harus merangkap tugas dan meningkatkan beban kerja yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas pembelajaran.
Di sisi lain, minat generasi muda untuk menjadi guru terus menurun. Banyak lulusan pendidikan melihat profesi guru sebagai pekerjaan dengan jalur karier yang panjang dan tidak selalu memberikan kepastian kesejahteraan. Kondisi ini membuat banyak lulusan terbaik memilih profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan.
Ironisnya, sistem pendidikan saat ini masih banyak ditopang oleh guru honorer yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung sekolah. Namun mereka sering menghadapi ketidakpastian status dan kesejahteraan. Situasi tersebut tentu tidak membantu upaya menarik minat generasi muda untuk menekuni profesi guru.
Karena itu, regenerasi guru harus menjadi agenda prioritas. Pemerintah perlu mempercepat pemenuhan kebutuhan guru melalui rekrutmen ASN dan PPPK, memberikan kepastian karier bagi guru honorer, meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik, serta memperkuat pendidikan profesi guru agar sesuai dengan kebutuhan zaman.
Kabupaten Bogor dengan kekurangan lebih dari 8.400 guru menjadi gambaran nyata bahwa krisis guru bukan ancaman masa depan, melainkan persoalan yang sedang terjadi hari ini. Jika Indonesia serius ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka investasi terbesar tidak hanya pada pembangunan sekolah, tetapi juga pada guru sebagai penggerak utama pendidikan.
