PARUNGPANJANG | BOGOR24JAM.COM – Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) BKPRMI Kecamatan Parungpanjang mengecam keras pernyataan pegiat media sosial, Permadi Arya, yang menyebut masyarakat Jawa Barat sebagai "barbar". Pernyataan tersebut dinilai melukai perasaan masyarakat dan berpotensi memicu perpecahan di tengah kehidupan sosial yang selama ini terjaga harmonis.
Ketua DPK BKPRMI Kecamatan Parungpanjang, Abdul Hajad, menegaskan bahwa ucapan tersebut tidak mencerminkan sikap yang bijak dan bertentangan dengan semangat persatuan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
"BKPRMI Kecamatan Parungpanjang mengecam keras pernyataan Abu Janda yang menyebut masyarakat Jawa Barat barbar. Ucapan tersebut sangat tidak pantas, menyakiti masyarakat Jawa Barat, serta berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara," ujar Abdul Hajad, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, masyarakat Jawa Barat dikenal memiliki budaya yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, gotong royong, toleransi, serta kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, pelabelan negatif terhadap suatu daerah maupun kelompok masyarakat dinilai tidak dapat dibenarkan.
Abdul Hajad mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat harus disertai tanggung jawab moral dan etika, terlebih bagi figur publik yang memiliki pengaruh besar di ruang digital.
"Kritik maupun pendapat adalah bagian dari demokrasi. Namun penyampaiannya harus dilakukan secara santun, objektif, dan tidak merendahkan martabat suatu daerah atau kelompok masyarakat," tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak terpancing emosi dan tetap menjaga kondusivitas. Menurutnya, perbedaan pandangan harus disikapi secara dewasa dengan tetap mengedepankan nilai persaudaraan dan persatuan bangsa.
Sebelumnya, pernyataan Abu Janda yang menyebut Jawa Barat dan Sumatera Barat sebagai daerah yang dihuni orang-orang "barbar" viral di media sosial dan menuai kecaman dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, hingga kalangan advokat.
BKPRMI Parungpanjang berharap polemik tersebut tidak berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas serta mengajak seluruh pihak untuk menghormati keberagaman sebagai kekuatan utama bangsa Indonesia.