Cibinong | BOGOR24JAM.COM  – Persoalan pendidikan menengah di Kabupaten Bogor kembali mencuat. Konsep link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan dunia industri dinilai belum berjalan optimal, sehingga berdampak pada rendahnya serapan lulusan di dunia kerja.

Di tengah dorongan pemerintah menjadikan SMK sebagai pencetak tenaga kerja siap pakai, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya kesenjangan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri.

Implementasi Link and Match Belum Merata

Sejumlah SMK Negeri/Swasta di Kabupaten Bogor memang telah menjalin kemitraan dengan dunia usaha dan industri, terutama di wilayah penyangga Jakarta. Namun, implementasinya belum merata.

Masih ada sekolah yang kesulitan mendapatkan mitra industri strategis. Akibatnya, tidak sedikit siswa menjalani praktik kerja lapangan (PKL) yang tidak sesuai dengan kompetensi keahlian mereka.

“Masih ada siswa SMK yang PKL-nya tidak relevan dengan jurusan. Ini tentu memengaruhi kesiapan mereka saat lulus,” ujar seorang praktisi pendidikan di Bogor.

Kondisi ini berimplikasi pada rendahnya tingkat penyerapan lulusan SMK di dunia kerja. Sebagian lulusan bahkan terpaksa bekerja di sektor informal yang tidak sesuai dengan bidang keahlian yang dipelajari.

Kesenjangan Kompetensi Jadi Tantangan

Selain persoalan kemitraan, kesenjangan kompetensi juga menjadi tantangan serius. Kurikulum dan fasilitas pembelajaran di sejumlah SMK dinilai belum sepenuhnya mengikuti perkembangan industri yang bergerak cepat.