BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Pancawaluya Tahun 2026 bukan sekadar kegiatan awal masuk sekolah, melainkan momentum penting dalam pembentukan karakter peserta didik agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Pesan tersebut disampaikan melalui sambutan tertulis Gubernur Jawa Barat yang dibacakan pada pembukaan MPLS Pancawaluya di seluruh SMA, SMK, dan SLB se-Jawa Barat, Rabu (15/7/2026).

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 424 pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat ditugaskan untuk membuka kegiatan MPLS di berbagai sekolah di wilayah Jawa Barat.

Menurut Dedi Mulyadi, pendidikan karakter harus menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan, terutama di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan derasnya arus informasi yang terus berkembang.

"MPLS bukan sekadar hari pertama masuk sekolah, tetapi awal proses pembentukan karakter sebagai pelajar Jawa Barat. Sebuah proses untuk membangun disiplin, tanggung jawab, dan membiasakan hidup dengan nilai-nilai karakter yang akan menjadi bekal sepanjang hayat," demikian pesan Gubernur.

Pancawaluya Jadi Fondasi Pendidikan Karakter

Dedi menjelaskan, pendidikan karakter di Jawa Barat dibangun melalui konsep Pancawaluya, yang berakar dari nilai-nilai budaya Sunda dan diwujudkan dalam lima karakter utama, yaitu, Cageur (sehat), Bageur (baik),Bener (benar),Pinter (cerdas),Singer (tangguh dan kreatif)

Kelima nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman dalam kehidupan peserta didik, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang pembiasaan karakter yang memungkinkan peserta didik menerapkan nilai-nilai tersebut dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari menjaga kesehatan, menghormati guru dan orang tua, bersikap jujur, disiplin, gemar belajar, hingga berani berinisiatif dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.